Tenaga Kesehatan Kobar Mendapatkan Orientasi Dan Praktek Skrining Hypotyroid Konginental

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kab. Kobar saat memberikan sambutan pada kegiatan orientasi Penguatan Pelayanan Bayi Baru Lahir Termasuk Skrining Hipotyroid Konginetal (SHK) di aula Dinas Kesehatan kab. Kobar (27/6). (Milda ningsih/Dinkes)

MMC Kobar - Dalam rangka meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan pelayanan Bayi Baru Lahir dan Skrining Hypotyroid Konginental (SHK) pada bayi baru lahir, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotawaringin Barat (Kobar) melaksanakan kegiatan orientasi “Penguatan Pelayanan Bayi Baru Lahir Termasuk Skrining Hipotyroid Konginetal (SHK)”.

Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Dinkes Kobar Kamis (27/6) yang dihadiri oleh satu orang bidan dan dokter dari seluruh puskesmas serta dihadiri oleh bidan dari klinik pratama yang ada di wilayah Kabupaten Kobar.

(Baca Juga : Bupati Kobar Resmikan Gedung Poliklinik dan Launching SIMRS RSSI Pangkalan Bun)

Hipotiroid Konginetal (HK) adalah suatu keadaan hormon tyroid yang tidak adekuat pada Bayi Baru Lahir sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh yang dapat disebabkan oleh kelainan anatomi kelenjar tyroid, kelainan genetik, kesalahan biosintesis tiroksin serta pengaruh lingkungan.

dr. Windy Saufia Apriyanti, Sp.A sebagai narasumber pada kegiatan ini mengatakan bahwa sebetulnya SHK ini program nasional yang sudah dilakukan di Indonesia, hanya saja di Pangkalan Bun ini baru bisa diaplikasikan di Rumah Sakit Sultan Imanudin (RSSI) sedangkan di Rumah Sakit sekitarnya maupun di verifer fasilitas kesehatan lainnya belum dikerjakan.

“Jadi harapannya saya dengan adanya orientasi SHK ini, fasilitas kesehatan di sekeliling RSSI pun bisa melakukan SHK ini. Karena dengan SHK kita akan bisa mendeteksi Hipityroid Konginental secara dini dan bila dilakukan terapi dibawah 1 bulan hasilnya juga akan bagus,” lanjut dr. Windy.

Kegiatan ini dilaksanakan melalui metode ceramah, diskusi interaktif, demonstrasi (video), praktek pengambilan sampel darah tumit bayi dan penyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) oleh peserta.

“Kegiatan ini sangat penting terutama untuk mencegah secara dini adanya kasus Konginental pada Bayi Baru Lahir, karena akibatnya bisa retardasi mental atau keterbelakangan mental. Jadi kalau lebih awal mengetahuinya masih bisa dicegah sehingga akibat reterdasi mental bisa berkurang,” kata Kasi Kesehatan keluarga dan Gizi Masyarakat Mamad Syahruni, SP saat diwawancarai di sela-sela kegiatan.

Harapannya setiap puskesmas petugasnya mampu melakukan SHK pada Bayi Baru Lahir karena tahun kemaren hanya ada dua puskesmas yang bisa jadi kalau sekarang ini karena semua puskesmas sudah dilatih oleh ahlinya.

“Jadi harapannya semua juga bisa melakukan SHK pada Bayi Baru Lahir,” tambah Syahruni. (Milda Ningsih/Dinkes)