Karhutla di Desa Natai Baru, BPBD Kobar Telah Tangani 14,5 Hektar Sejak Awal Mei

Personil TRC BPBD Kobar melakukan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Desa Natai Baru Kecamatan Arut Selatan, Selasa (16/5/2023).

MMC Kobar – Pada Selasa (16/5) Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) melakukan penanganan pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di area lahan Desa Natai Baru, Kecamatan Arut Selatan.

Dari laporan yang diterima, kebakaraan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB. Personil yang menerima informasi tersebut langsung mempersiapkan sarana prasarana untuk penanganan.

(Baca Juga : Buka Musrenbang Kecamatan Pangkalan Lada, Sekda Kobar : Sinergikan Program dengan Dunia Usaha)

“Dari informasi Masyarakat Peduli Api (MPA), tim langsung bergerak menuju lokasi. Disamping tim yang sudah berangkat, sisanya standby untuk menerima arahan jika dibutuhkan tambahan sarpras,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kobar Martogi Siallagan.

Sebanyak 3 unit mobil tangki water supply turun ke lokasi untuk pemadaman lahan seluas kurang lebih 5 hektar. Setelah penanganan selama 1,5 jam, lahan berhasil dikondisikan dan berlanjut ke proses pendinginan.

Proses penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Desa Natai baru Kecamatan Arut Selatan Selasa (16/5/2023)

“Karhutla di Desa Natai Baru ini bisa di tangani dengan cepat karena kondisi lapangan yang tidak terlalu berangin. Selain itu, suplai air di sekitar lokasi juga tersedia sehingga penanganan bisa berjalan lancer dan aman,” terangnya. 

Penanganan juga dibantu pihak lainnya yakni dari TNI Polri, Manggala Agni, MPA Desa Natai, IEA, Perangkat Desa, dan Huma singgah.

Martogi menambahkan sejak awal bulan Mei, telah terjadi 4 kali karhutla. “Karhutla terjadi antara lain di Desa Kumpai Batu Bawah, Desa Keraya, Kelurahan Baru, dan Desa Natai Baru. Total lahan terbakar per 1 Mei kurang lebih 14,5 hektar,” ungkap Martogi.

Dalam beberapa minggu terakhir, cuaca untuk wilayah Kabupaten Kobar cenderung panas. Hal ini menjadi salah satu penyebab munculnya karhutla. “Diimbau untuk masyarakat, karena cuaca panas diharapkan tidak membuka lahan dengan membakar. Karena dampaknya akan sangat merugikan,” ujarnya.

Martogi juga mengimbau kepada perangkat desa di tiap kecamatan agar memantau kondisi wilayahnya agar terhindar dari karhutla. “Bantuan dari tiap desa kelurahan sangat diharapkan agar wilayah kita tetap aman,” imbau Martogi. (bpbd kobar)