Jelang Ramadhan, Penggiat Lingkungan Kobar Gelar Acara Ramadhan Minim Sampah

Para peserta dan narasumber berfoto bersama, usai gelar kampanye Ramadhan Minim Sampah, Minggu (5/5/2019). (kharisma/karlan08)

MMC Kobar - Ramadhan adalah bulan yang identik dengan hadirnya berbagai macam menu berbuka yang banyak sekali dijual oleh pedagang baik di pasar, kaki lima maupun pedagang rumahan. Banyaknya menu dan jenis produk yang dijual tentu berdampak pada banyaknya jumlah timbulan sampah sisa makanan dan sisa pembungkus plastik/sterofoam  makanan. Padahal sebagaimana yang kita ketahui bersama, sampah memiliki dampak negatif bagi lingkungan dan juga kesehatan kita. Ditambah lagi, plastik/sterofoam perlu waktu yang sangat lama untuk dapat terurai di lingkungan.

Sebagai contoh, kantong plastik perlu waktu sepuluh tahun hingga lebih untuk dapat terurai. Maka berbicara masalah sampah, tentu tidak akan ada habisnya sebab sampah adalah hal yg selalu muncul dalam kehidupan sehari hari sehingga sulit untuk dihindari. Akan tetapi ada upaya yang dapat dilakukan oleh setiap orang untuk mengurangi dampak negatif sampah, yaitu upaya minim sampah. Dengan meminimalisir sampah maka kita turut mengurangi jumlah timbulan sampah ke lingkungan kita. 

(Baca Juga : Dampingi Wabup Kobar, Dishub Kobar Tinjau Bandara Iskandar Pangkalan Bun)

Berangkat dari keprihatinan sampah yang terus menerus menumpuk dan minimnya kesadaran untuk mengurangi tumpukan tersebut, beberapa penggiat lingkungan mengadakan event sederhana yang bertujuan untuk mengkampanyekan gerakan minim sampah terutama sampah plastik. Kampanye ini dikemas dalam suatu acara diskusi ringan dengan mengambil tema “Ramadhan Minim Sampah, Siapa Takut!” yang digelar di Oikos Cafe, Minggu (05/05) lalu.

Kegiatan ini diisi oleh beberapa narasumber dari berbagai kalangan yang merupakan penggiat dan pemerhati lingkungan. Sesi pertama dalam diskusi tersebut mengambil tema "Saya sedang berjuang" diisi oleh Ade Tri Saputra (Founder akun @zerowastepangkalanbun) dan Rina Rahayu Putri (Founder akun @zerowastekobar), pejuang minim sampah dari kalangan individu yang sudah mulai mengelola sampah rumah tangga dengan membuat kompos sendiri baik dari sisa sampah sayur ataupun telur, membuat eco-enzym, menolak plastik dan membiasakan diri membawa kantong belanja sendiri, membuat sabun batangan sendiri serta dan tentu saja dengan upaya mengganti produk sekali pakai ke produk yg dapat digunakan berulang kali.

Mereka menjelaskan bagaimana keprihatinan mereka terhadap gunungan sampah yang kerap terlihat setiap hari dan menyadari bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah masing-masing walaupun awalnya  mendapat berbagai macam tentangan dari keluarga terdekat yang pada akhirnya saat ini ikut mendukung dan berpartisipasi dalam upaya minimalisir sampah. Menurut Putra dan Rina, begitu mereka akrab disapa, keberadaan akun instagram yang mereka kelola diharapkan dapat menjadi inspirasi dan dapat menyebarkan efek positif pada kalangan yang lebih luas sehingga dapat bersama-sama mengelola sampah secara mandiri di rumah.

Sesi kedua bertema "Mereka Ikut Berjuang" diisi oleh co-owner Oikos cafe, tempat dimana acara dilaksanakan dan Enfy Stuff (@enfy.stuff) yaitu pengusaha yang menyediakan berbagai  produk ramah lingkungan. Hal yang menarik dari Oikos Cafe adalah mereka telah beralih dari sedotan plastik ke sedotan stainless untuk setiap minuman yang dihidangkan pada cafe tersebut sejak empat bulan terakhir.

Hayrianto selaku  Co-owner cafe tersebut menjelaskan pada awalnya sempat ditentang oleh beberapa konsumen karena berbagai alasan dan betapa repotnya mereka karena harus mencuci ulang setiap sedotan di cafe tersebut. Namun, ia dan tim tetap semangat dan percaya bahwa langkah kecil yg mereka lakukan dapat turut membantu pengurangan sampah di tempat usaha mereka. Ia menambahkan pula, selain dicuci, setiap sedotan juga direndam dengan air mendidih untuk memastikan sedotan tetap steril sehingga aman jika digunakan kembali.

Sedangkan Enfy Stuff mengawali usahanya dari menjual sedotan stainless untuk mengganti sedotan plastik. Meskipun banyak yang belum familiar dengan produk-produk re-usable, mereka tetap berharap akan banyak yang beralih dari barang sekali pakai atau bahan plastik dengan barang yang dapat digunakan kembali atau berbahan organik seperti sedotan stainless, sedotan bambu, re-usable cotton (bahan pengganti kapas sekali pakai), hingga sikat gigi gagang bambu untuk mengganti sikat yang berbahan plastik.

Sesi ketiga yang tidak kalah penting bertema "Pemerintah Juga Berjuang". Pihak pemerintah juga sangat berperan dalam hal pengelolaan sampah di wilayahnya  baik dalam hal penyediaan sarana prasarana hingga pembuatan dan penegakan regulasi. Diwakili oleh M. Robiannor, S.P, M.P. (Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kotawaringin Barat) menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Pemkab Kobar) sudah berupaya dalam pengelolaan sampah baik melalui program pengangkutan sampah setiap hari, program Jumat Bersih yang mulai di-launching sejak tahun 2017 lalu di areal Pangkalan Bun Park yang selanjutnya berkembang ke dalam program Kali Bersih, Pantai Bersih, Bantaran Sungai Bersih yang semuanya melibatkan peran serta masyarakat agar semua berperan aktif dan bertanggung jawab pada sampah yang dihasilkan.

Ia menambahkan pula bahwa DLH Kobar juga terus mendorong bank sampah untuk terus berinovasi serta adanya program Go to School yang  bertujuan untuk mengubah mindset para siswa dan guru terkait pengelolaan sampah di sekolah.

Ia menyebutkan bahwa Kabupaten Kotawaringin Barat saat ini menghasilkan 30 ton sampah per hari nya bahkan ini bisa lebih terutama di hari-hari besar. Sebagian besar sampah (hampir 70-80%) merupakan sampah organik yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tanpa harus langsung membuangnya ke Tempat Penampungan Sementara (TPS). Maka peran sekecil apapun dari masyarakat sangat membantu sekali dalam upaya pengurangan sampah.

"Pemkab Kobar juga berupaya untuk mendorong lahirnya Peraturan Daerah terkait regulasi penggunaan sampah plastik yang sekarang masih dalam tahap upaya perumusan", sambung beliau.

Kegiatan kampanye ini selanjutnya ditutup dengan slogan “Sampahku, Tanggung Jawabku” yang secara serempak diikrarkan oleh semua peserta. Harapannya ke depan, di Pangkalan Bun semakin banyak orang yang terketuk hatinya untuk berjuang dalam upaya pengurangan sampah plastik meskipun dengan cara yang seminimal mungkin dapat dilakukan.

Momentum Ramadhan ini merupakan titik awal yg tepat sekali untuk kita belajar mendisiplinkan diri dalam upaya minim sampah seperti membawa wadah/tempat belanjaan sendiri saat ke pasar Ramadhan. Sehingga Ramadhan tidak hanya menjadi momentum umat muslim untuk beribadah dan beramal baik kepada sesama manusia tetapi juga beramal baik kepada alam semesta.

"Semakin banyak yang peduli pada lingkungan maka suatu saat Pangkalan Bun tidak lagi hanya minim sampah akan tetapi sudah menjadi Pangkalan Bun Kota Bebas Sampah", ujar Lisa Agustina, salah satu penggagas dalam acara tersebut. (kharisma/karlan08)