Setahun Dikembangkan, Budidaya Hortikultura Kobar Tumbuh Pesat

MMC Kobar - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Barat (Kobar), selama setahun ini yakni tepatnya sejak tahun 2017 lalu, telah mengembangkan budidaya sektor pertanian hortikultura berupa tanaman bawang, wortel, kubis, semangka, dan kopi di Kabupaten Kobar. Selama setahun budidaya ini disentuh Pemkab Kobar melalui program khusus Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kobar, telah membuahkan hasil signifikan.

Buktinya hasil produksi sebagian pertanian ini mampu mencukupi kebutuhan daerah, bahkan hingga dipasok keluar daerah. Dampak positifnya mampu mengangkat ekonomi petani Kobar. Lantaran sistem pertanian yang dikembangkan semi modern ini, selain masa panen yang relatif singkat, harga juga bersaing dengan hasil produk pertanian luar daerah.

Bupati Kobar Hj Nurhidayah mengatakan, Pemkab Kobar selalu siap membantu para petani dalam mengembangan budidaya tanaman hortikultura di Kobar. Karena sektor tanaman ini dinilai memiliki potensi bagi daerah. Sehingga jika para petani mengalami kendala dalam bercocok tanam, pihaknya siap untuk membantu mengatasinya. Dengan catatan para petani harus konsisten menjalani profesinya dan jenis tanaman yang mereka budidayakan.

“Saya sudah berbicara dengan sejumlah kades, bahwa kita siap membantu baik dari segi lahan untuk petani, asal konsisten bertaninya, jangan hanya sekedar mengikuti trend, tak hanya itu kita juga akan backup masalah modal mereka melalui BUMDes dan Perbankan daerah," ungkap Hj Nurhidayah.

Hj Nurhidayah menerangkan, Pemkab Kobar sangat serius memperhatikan perkembangan tanaman hortikultura ini. Bahkan pihaknya beberapa kali secara langsung turun kelapangan untuk melihat kendala apa saja yang dihadapi para petani dalam membudidayakan tanaman tersebut.

“Hal itu kita lakukan supaya memberikan semangat kepada petani, sekaligus melihat keseriusan mereka mengembangan hortikultura di Kobar, karena kedepan kita berkeinginan untuk memiliki pasar induk, dan mereka inilah yang akan jadi pemasoknya, tanpa medatangkan dari Pulau Jawa lagi,” paparnya.

Terpisah, Kepala DTPHP Kobar Kamaludin mengatakan, pengembangan budidaya pertanian hortikultura di Kobar tersebar di lima kecamatan. Yakni Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kumai, Pangkalan Lada dan Banteng serta Kotawaringin Lama (Kolam). Budidaya pertanian ini lebih menguntungkan petani, karena selain masa tanam yang relatif singkat, yakni sekitar jangka waktu 50-60 hari sudah panen. Disamping itu pangsa pasarnya sudah jelas, lantaran penampung yang siap membelinya juga banyak.

“Untuk bawang merah, komoditas ini ditanam petani secara berkelompok. Diantaranya seperti di Desa Pasir Panjang, dan Kumpai Batu Atas Kecamatan Arsel,” ujar Kamaludin.

Budidaya komoditas bawang merah ini, ditanam di areal lahan seluas kurang lebih 60 hektar yang tersebar di lima kecamatan. Produksinya mampu menghasilkan 60 persen dari produktivitas genetik aslinya. Misalkan di daerah asalnya menghasilkan 10 ton perhektar, di Kobar berkisar 6 ton perhektar.

“Hasil produksi bawang merah ini sangat bagus karena mampu menunjang kebutuhan bawang merah Kabupaten Kobar. Sehingga kita tidak lagi harus memasok semua kebutuhan bawang merah dari luar daerah khususnya Pulau Jawa. Bahkan hasil produksi ini juga mampu mengangkat ekonomi masyarakat petaninya. Karena sekali panen bisa menghasilkan pendapatan Rp 25-35 juta,” bebernya.

Sementara untuk tanaman wortel dan kubis lanjut dia, budidaya tanaman ini sementara masih dilakukan oleh masyarakat petani di Desa Kumpai Batu Atas Kecamatan Arsel. Bahkan, mulai meluas dikembangkan secara perlahan oleh masyarakat petani di kecamatan lainnya.

Sedangkan untuk tanaman semangka dan melon, memiliki potensi sangat besar. Karena hasil produksi tanaman ini melimpah, sehingga tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar daerah melainkan sudah dipasok hingga ke luar daerah. Seperti ke Pontianak Kalimantan Barat (Kalbar) dan daerah lainnya.

“Untuk semangka dan melon ini budidayanya tersebar di lima kecamatan. Seperti di Arsel, Kumai,dan Pangkalan Lada, Banteng serta Kolam. Karena itu hasil produksinya saat panen melimpah, sekitar ratusan ton perhektar. Sehingga memenuhi kebutuhan pasar kita, dan bahkan terpaksa harus dipasok ke luar daerah, salah satunya ke Pontianak Kalbar,” urai Kamaludin.

Sementara untuk budidaya tanaman kopi tambah Kamaludin, sejauh ini hanya dikembangkan oleh masyarakat petani di Desa Kumpai Batu Atas. Tanaman ini mulai dikenal luas masyarakat, seiring adanya kerjasama petani dengan salah satu pihak pengelola agrowisata di Kobar.

Ketika disingung terkait pemasaran hasil produksi para petani yang melimpah tersebut. Kamaludin menjelaskan, sejauh ini untuk pemasaran hasil produksi pertanian hortikultura ini tidak ada masalah. Karena selain ditampung di daerah, juga dipasok keluar daerah tadi.

“Untuk pemasaran tidak ada kendala. Karena sejauh ini sudah ada penampung yang membelinya baik yang berasal dari Pangkalan Bun maupun dari luar daerah. Disamping itu kita juga membantu mempromosikan dan memperkenalkan hasil produk pertanian ini melalui program pojok hortikultura yang diadakan setiap pekannya di DTPHP Kobar,” ucapnya.

Senada juga diungkapkan oleh Ketua Kelompok Tani Tunas Baru Desa Kumpai Batu Atas Heri Kuswanto. Menurut dia, dalam mengembangan dan memasarkan hasil budidaya pertanian hortikultura di Kobar tidak ada kendala, lantaran pembelinya sudah ada.

“Paling masalah yang kita hadapi hanya pada faktor cuaca. Jika musim kemarau pihaknya kesulitan air untuk mengairi areal lahan bercocok tanam lantaran kering. Karena biasanya kita menggunakan air yang didapat dari sumur bor untuk mengairi lahan,” ungkap Heri. (Humas Diskominfo/hm)

Advertorial Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat, Terbit di kaltengekspres.com, 7 Juni 2018.