Fasilitas Peliput Perhelatan APG 2018, Tak Hanya Internet Cepat

Jakarta, Kominfo - Kementerian Komunikasi  dan Informatika menyediakan fasilitas peliputan bagi seluruh jurnalis dalam rangkaian acara Asian Para Games 2018. Terpusat di Main Press Center (MPC), Lantai Dasar GBK Arena di Kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Ada fasilitas news broadcasting service yang bisa digunakan jurnalis media elektronik.  Tercatat, jumlah wartawan yang sudah mendapat tanda pengenal di MPC hingga saat ini berjumlah sekitar 953.

“Teman-teman semua, dalam rangka perhelatan Asian Para Games, ini sama dengan Asian Games, tidak jauh berbeda, infrastrukturnya persis sama, baik berupa perangkat maupun dari sisi jaringannya secara fisik adalah sama”, ujar  Rudiantara saat mengunjungi MPC, GBK Arena, minggu lalu.

Mengenai kapasitas bandwith akses internet, menurut Rudiantara, dalam  Opening Ceremony Asian Para Games 2018, Sabtu (06/10/2018) lalu, penonton, ofisial tim, atlet maupun tamu undangan menikmati fasilitas luxury dari throughput wifi nya yang luar biasa. 

“Karena apa? Selain bandwith yang besar, khusus untuk Main Press Center (MPC) di GBK Arena, disediakan 2 x 10 Gbps bandwith. Jadi, siapapun bisa memanfaatkan kapasitas internet yang cukup besar,” jelas Rudiantara. 

Mengenai fasilitas workstation untuk kerja, Kementerian Kominfo telah menyediakan sekitar 150 PC yang bisa digunakan oleh jurnalis dari dalam dan luar negeri. “Dari total 150 work station di ruang MPC Asian Para Games 2018 ada 50 PC yang sudah terkoneksi langsung dengan kabel LAN dan 100 lainnya hanya kabel LAN saja. Kemudian, kecepatan koneksinya mencapai 1 Gbps,” ungkap Rudiantara.

Meskipun demikian, Menteri Kominfo Rudiantara, mengimbau jurnalis yang membawa perangkat laptop sendiri agar memastikan jaringan WiFi pada laptopnya bekerja di frekuensi 5,8 Ghz. 

“Karena kalau menggunakan laptop yang lama hanya supply 2.4 Ghz. Jika teman-teman media masih ada yang menggunakan perangkat laptop lama, teman-teman dari Telkom sudah menyediakan dongle, terutama di lapangan dan di MPC agar rekan-rekan jurnalis bisa bekerja dengan nyaman,” papar Rudiantara.

Tak Hanya Akses Internet

Berdasarkan pemantauan Tim Biro Humas Kementerian Kominfo pada Selasa (09/10/2018) kemarin, untuk memudahkan koneksi internet juga telah disediakan 15 titik akses poin di area Main Press Center. Ada pula fasilitas difable working area atau area kerja khusus difabel serta dua titik akses poin masing-masing di ruangan Press Conferrence dan Dinning Room. 

Direktur Media dan PR Asian Para Games 2018 M. Farhan yang ditemui secara terpisah, mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi kinerja Kementerian Kominfo yang telah membangun infrastruktur komunikasi dan teknologinya. 

“Jaringan internet dan daya sambungnya luar biasa tinggi. Dan juga tentu saja hal ini membuat semua media bekerja dengan sangat baik. Untuk transfer file berupa gambar dan video digunakan jaringan LAN yang dapat diandalkan konten yang diunggah dapat terkirim segera kepada konsumen. Apa yang terjadi hari ini, hari ini juga disampaikan pada masyarakat,” tuturnya.

Farhan menambahkan, selain fasilitas jaringan internet yang mumpuni, Kementerian Kominfo juga menyediakan sejumlah fasilitas, antara lain: ruang konferensi pers, interview corner, utilities dan locker counter, informasi jadwal dan skor pertandingan serta live feed bagi pewarta yang tidak sempat meliput langsung di arena pertandingan. 

“Kami sangat berterima kasih kepada Kemenkominfo yang telah menyediakan layanan hospitality berupa dining hall atau area makan, kursi pijat dan juga massage service atau layanan pijat. Seluruh fasilitas dan layanan tesebut beroperasi sejak 4 Oktober 2018 lalu,” tandasnya.

Jurnalis dan peliput Asian Para Games 2018 juga disiapkan hidangan makan tiga kali sehari diselingi dengan cemilan. Ada pula deretan kursi pijat yang memijat wartawan yang lelah meliput untuk memanjakan para jurnalis. Mereka dari kalangan penyandang disabilitas dari gerai ThisAble Enterprise.  Layanan pijat itu bisa dimanfaatkan secara gratiss setiap hari mulai pukul 09.00 s.d. 21.00 WIB. 

"Mereka rata-rata memang disabilitas. Ada yang full tuna netra ada juga yang low vision. ThisAble Enterprise ini merupakan milik Angkie Yudistia, seorang gadis tuli yang bergelar S2 bidang komunikasi pemasaran lewat program akselerasi di LSPR dengan nilai rata-rata IPK 3.5," tambah Farhan.

Untuk menggunakan fasilitas pijat itu, jurnalis dan pekerja media hanya perlu mengisi daftar. Lalu pemijat akan langsung mengerjakan tugasnya. Setiap hari standby sekitar lima orang yang bertugas bergiliran meredakan lelah jurnalis. "Pijatannya enak dan terlatih. Maka dari itu, booth pijat di MPC ini tak pernah kekurangan tamu. Gratis soalnya," ucap  Nur Fatin Atherah, jurnalis asal Malaysia. 

Jurnalis Disabilitas

Perhelatan Asian Para Games 2018 ini tak hanya diikuti atlet penyandang disabilitas, namun di jajaran jurnalis dan peliput ada juga pewarta berita asal Jepang yang menggunakan kursi roda dan fotografer berkebutuhan khusus. Setiap pagi hari, mereka berlima, fotografer tuli  menerima pengarahan terkait mekanisme pengambilan gambar di perhelatan ini. Kelima fotografer disabilitas itu adalah Christianto Harsadi, Clara Vania Puspita, Lalu Syena Z, Alkautsan W, dan Ivan Octa Putra. 

"Aku menggagas ide ini pada awal tahun 2018. Dari visi Asian Para Games untuk atlet difabel, artinya fotografer difabel juga bisa mengambil kesempatan yang sama seperti atlet yang bertanding. Itu namanya kesetaraan dan ini yang saya cari," tutur Christianto.

Christianto rajin mengikuti berbagai lomba fotografi untuk mengasah kemampuan dan menambah ilmu fotografi. Mulaid ari   Canon Photomarathon, workshop fotografi, sampai Photo Face-Off pada 2016 dan 2017. Dari ajang Photo Face-Off, ia merebut beasiswa Darwis Triadi of School pada awal 2018. Ilmu yang diperoleh dari workshop itulah yang dibagikan Christianto kepada teman-temannya. (hm.ys)